Sekretaris Jenderal World Zakat and Waqf Forum (WZWF), H.E. Datuk Dr. Ghazali Md, menyampaikan pandangan strategis mengenai masa depan filantropi global dalam The 9th International Conference on Zakat (ICONZ) yang digelar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (11/12/2025). Ia menegaskan kebutuhan mendesak akan arsitektur baru filantropi dunia sebagai respons atas meningkatnya ketimpangan dan krisis kemanusiaan, sekaligus menempatkan Indonesia melalui BAZNAS RI sebagai rujukan utama dalam modernisasi tata kelola zakat dan wakaf.
Menurut Datuk Ghazali, dunia kini berada dalam situasi yang semakin rapuh. Ketimpangan distribusi kekayaan, eskalasi konflik, dampak perubahan iklim, dan tingginya kebutuhan kemanusiaan telah melampaui kapasitas banyak pemerintahan. Kondisi tersebut menuntut hadirnya kerangka nilai global yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada tanggung jawab moral bersama. Di tengah dinamika tersebut, sistem keuangan sosial Islam dipandang memiliki potensi besar untuk menjadi solusi yang menyentuh akar persoalan.
Ia menilai zakat dan wakaf bukan sekadar kewajiban keagamaan, tetapi instrumen publik yang mampu memperkuat sendi-sendi kesejahteraan sosial. Keberadaan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara dengan ekosistem zakat-wakaf paling maju di kawasan dinilai menjadi modal penting untuk mendorong transformasi global. Indonesia, khususnya, dipandang berhasil membangun model tata kelola modern melalui kerangka hukum yang kuat, transparansi pelaporan, serta jangkauan distribusi yang merata hingga ke wilayah pedesaan, pesantren, dan kawasan rentan.
Posisi BAZNAS sebagai otoritas zakat nasional disebut sebagai keunggulan strategis yang tidak dimiliki banyak negara lain. Kapabilitas ini memungkinkan Indonesia memobilisasi zakat secara profesional untuk mendukung pembangunan, penguatan perlindungan sosial, serta respons terhadap berbagai peristiwa kemanusiaan. Peran Indonesia dalam penanganan krisis, termasuk di Palestina, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menjadi bukti bahwa zakat mampu berfungsi sebagai instrumen solidaritas yang melampaui batas-batas geografis.
Capaian Indonesia dalam menyalurkan bantuan pangan ke Gaza melalui jalur Rafah pada 2025, serta pemberian dukungan psikososial dan bantuan tunai kepada puluhan ribu pengungsi Palestina, turut menegaskan kapasitas zakat sebagai instrumen kemanusiaan lintas negara. Menurut Datuk Ghazali, keberhasilan ini memperlihatkan bagaimana institusi zakat profesional dapat menyampaikan bantuan secara efektif bahkan di wilayah konflik berisiko tinggi.
Dalam penutupannya, Datuk Ghazali mengajak seluruh pemangku kepentingan global untuk membangun kembali peradaban berdasarkan nilai kasih sayang, solidaritas, dan keadilan. Ia menilai bahwa filantropi modern harus menjadi jembatan antara iman dan etika universal, serta menjadi fondasi tata kelola kemanusiaan masa depan.
ICONZ ke-9 terselenggara melalui kolaborasi BAZNAS RI, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Kementerian Agama, serta mendapat dukungan berbagai institusi nasional dan internasional seperti PT Bank Syariah Indonesia, BSI Maslahat, Rumah Zakat, Transjakarta, INDEF, Universitas Tazkia, Universitas Paramadina, KNEKS, IAEI, dan Indiana University. Konferensi ini semakin menegaskan peran Indonesia sebagai pusat inovasi zakat dan wakaf dunia.

